UNTUKMU
Ramadan yang kesekian kalinya. Sudah tak terhitung dengan jari, Ramadhan di perantauan, menyisakan rindu dan harapan. Hidup di perantauan tak hanya membuatku kuat dan dewasa, tetapi juga mengajarkan nikmatnya merasakan rindu. Perantauan mengajarkanku bagaimana indahnya rindu dan bagaimana menghargai setiap rindu. Kadang rinduku berteman air mata. Rindu orang tua, rindu keluarga, rindu akan sahabat, dan teman, juga rindu pada guru-guru. Semua rindu ini mengajarkanku betapa kehadiran mereka amatlah nyata dan berkesan. Hingga segunung rindu pun hadir. “Sesuatu akan dihargai saat ia pergi atau jauh darimu" adalah ungkapan yang sudah terbukti benar. Aku juga merasakan bahwa "jauh" membuatku lebih ikhlas dalam berdo'a. Jarak ini mengajarkan untuk menghargai waktu di setiap pertemuan. Jarak juga mengajarkanku untuk menuntaskan rinduku dalam do'a-do'a terbaik. Jarak juga melembutkan hatiku dengan caranya sendiri. Rindu, lahir karena cinta, itulah esensi rindu yang ...