UNTUKMU
Ramadan yang kesekian kalinya. Sudah tak terhitung dengan jari, Ramadhan di perantauan, menyisakan rindu dan harapan. Hidup di perantauan tak hanya membuatku kuat dan dewasa, tetapi juga mengajarkan nikmatnya merasakan rindu.
Perantauan mengajarkanku bagaimana indahnya rindu dan bagaimana menghargai setiap rindu. Kadang rinduku berteman air mata. Rindu orang tua, rindu keluarga, rindu akan sahabat, dan teman, juga rindu pada guru-guru.
Semua rindu ini mengajarkanku betapa kehadiran mereka amatlah nyata dan berkesan. Hingga segunung rindu pun hadir. “Sesuatu akan dihargai saat ia pergi atau jauh darimu" adalah ungkapan yang sudah terbukti benar.
Aku juga merasakan bahwa "jauh" membuatku lebih ikhlas dalam berdo'a. Jarak ini mengajarkan untuk menghargai waktu di setiap pertemuan. Jarak juga mengajarkanku untuk menuntaskan rinduku dalam do'a-do'a terbaik. Jarak juga melembutkan hatiku dengan caranya sendiri.
Rindu, lahir karena cinta, itulah esensi rindu yang sebenarnya. Rindu bisa membuat orang menangis dan tertawa di waktu yang bersamaan. Rindu juga menjadi obat segala luka. Karena rindu itu bentuk ketulusan dari hati yang hampa.
Aku selalu yakin bahwa do'a, sejauh apapun pasti akan sampai dan tersampaikan. Olehnya, setiap rindu menyapa hati, maka do'a adalah pelipurnya. Rindu ini bukan sembarang rindu, rindu ini rindu seorang anak manusia kepada ibundanya
Teringat saat itu, di satu waktu ketika diri memendam rindu. Meski hanya terhubung oleh suara yang bersahutan di ujung telepon, setidaknya sudah menimbun beberapa sudut hati yang berlubang tersebab rindu.
"Bu, tahun ini aku enggak pulang, masih ada tugas kuliah yang belum beres", kata ku pada Ibu, terdengar nafas panjang dari balik gagang telepon
"Belum beres tugas sama ujiannya? Oh tidak apa apa nak, jangan lupa jaga kesehatan yah" jawabnya dengan nada menenangkan.
"Tapi aku janji kalo beres semuanya dan dapat izin dari kampus aku akan segera pulang" jawabku lagi
"Ibu selalu menunggu mu pulang nak, tapi ingat waktu" jawab ibu
"Waktu bu?" tanya ku semakin bingung
"Iya waktu nak. Kamu bisa kapan pun pulang,bisa kapan pun pergi tapi tidak dengan ibu. Ada waktu nanti ketika semua sudah terlambat. Semoga semuanya baik-baik saja"
Saat itu air mataku menetes dan tubuhku terasa lemas. Ingin rasanya aku segera berlari menemuinya membersamai masa tuanya. Namun, hidup tak selalu indah seperti yang kita bayangkan. Apapun yang terjadi kita harus yakin dengan apa yang Allah gariskan.
Ayah Ibu, Aku rindu. Ku titipkan sekeping rindu pada Rabb-ku dalam bingkai do'a dan ku yakin, Rabb akan sampaikan padamu. Ku pinta agar Dia menjagamu dalam tidur lelapmu juga saat matahari-Nya menyapamu
Aku di sini baik-baik saja. Aku di sini meminta do'amu saja. Aku di sini akan menjaga mimpi kita,
karena bersama semua do'a dan perjuangan kalian, adalah mimpi yang harus kubuat nyata..
Untukku, untukmu, dan untuk yang masih diberi kesempatan berada di samping Seorang sosok Ibu. Rawat, kasihi, berbakti, dan doakanlah selalu setiap waktu. Karena harta bisa dicari, ilmu bisa digali, tetapi waktu tak bisa kembali.
Tunggu aku di depan rumah dengan senyum yang tak pernah layu padaku, Ibu. Bagai mentari dikala pagi. Hingga akhirnya tak ada rindu yang membuat candu. Aku inginnya begitu
Komentar
Posting Komentar